METROBRATA UTAMA

Media Hukum & Kriminalitas

Sri Mulyani: Pelemahan Rupiah Positif untuk APBN 2019

2 min read

Metama,Jakarta : Kementerian Keuangan RI memberikan tanggapan terhadap Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan memberikan dampak positif pada APBN.

Dalam RAPBN 2019 disebutkan, setiap pelemahan Rp 100 per dolar AS dapat memberikan tambahan pendapatan sebesar Rp 900 miliar hingga Rp 1,5 triliun. ” Jadi, secara netonya akan positif dalam APBN,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja Badan Anggaran DPR RI bersama pemerintah dan Bank Indonesia di Jakarta, Selasa (4/9).

Meski begitu, kata Sri, pemerintah tetap memberikan perhatian pada keseluruhan perekonomian terkait dampak pelemahan kurs rupiah. Oleh karena itu, ia menegaskan, pemerintah tetap berkoordinasi dengan BI dalam upaya stabilisasi rupiah.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani menjelaskan, kenaikan kurs akan menambah pendapatan negara dari sisi penerimaan yang berkaitan dengan valuta asing. Penerimaan tersebut, seperti bea masuk, bea keluar, dan penerimaan dari sektor migas.”Dari komponen itu, potensi kenaikan penerimaan itu lebih tinggi dibandingkan potensi kenaikan belanjanya. Makanya, kita masih bisa mendapatkan surplus,” ujar Askolani.

Salah satu manfaat yang didapatkan, kata Askolani, defisit APBN akan menjadi lebih baik dan kebutuhan pembiayaan melalui utang pun bisa berkurang. Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan dalam pekan ini. Dolar terus menguat hingga mendekati Rp 15 ribu per dolar AS. Pada Selasa (4/9), kurs rupiah ditutup di atas Rp 14.900 per dolar AS.

Bank Indonesia sudah mengucurkan Rp 11,9 triliun

Sementara itu Bank Indonesia sudah mengucurkan Rp 11,9 triliun untuk mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Intervensi dilakukan dengan masuk ke pasar sekunder dan membeli Surat Berharga Negara (SBN) yang dilepas investor asing.Operasi membeli kembali (buyback) SBN sebesar itu terhitung sejak Kamis (30/8) yang sebesar Rp 3 Triliun, pada  Jumat (31/8)  Rp 4,1 Triliun, Senin (3/8) Rp 3 Triliun dan Selasa (4/8) Rp 1,8 Triliun. “Kamis dan Jumat pekan lalu maupun Senin dan Selasa kemarin, kami beli SBN,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Rapat bersama Komisi XI DPR di Jakarta, Rabu (5/9).

Baca Juga :  Pansel MK Sudah Serahkan 3 Nama ke Presiden Jokowi

Operasi di pasar SBN merupakan bagian dari intervensi BI ketika nilai tukar rupiah sudah jauh dari level fundamentalnya. Bank Sentral juga melakukan intervensi di pasar valas dengan memastikan pasokan valas tersedia.”Kami fokus saat ini untuk stabilisasi,” ujar Perry menegaskan. Selain operasi pasar, Bank Sentral mengaku sudah berkomunikasi dengan dunia usaha untuk lebih banyak menaruh dana hasil ekspornya di dalam negeri dan juga tidak memborong dolar AS berdasarkan spekulasi.Pembelian valas, ujar Perry, diharapkan sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu, BI juga mengupayakan penurunan biaya untuk barter valas dan juga barter untuk keperluan lindung nilai agar korporasi tidak melakukan pembelian valas dalam jumlah besar di sekali waktu. Pergerakan nilai tukar rupiah Rabu sore, masih dibayangi tekanan dengan bergerak ke posisi Rp 14.922 per dolar AS. Secara tahun berjalan, sejak awal Januari 2018 hingga saat ini, rupiah sudah melemah 8,2 persen. (Fer)

 

Berlangganan