9 Pati TNI AD : Berpeluang “Kandidat Pemimpin TNI AD” - METROBRATA UTAMA    

METROBRATA UTAMA

Media Hukum & Kriminalitas

9 Pati TNI AD : Berpeluang “Kandidat Pemimpin TNI AD”

4 min read

Metama,Jakarta : Mayjen Agus Surya Bakti dilantik  sebagai Sekretaris Kementerian  Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Sesmenko Polhukam). Ia menggantikan Letjen Yoedhi Swastono. Lulusan Akademi Militer (Akmil) 1983, yang masuk  masa  pensiun.  Sekaligus menandai akan berakhirnya era lulusan 1983.

Pelantikan dipimpin Menko Polhukam, Jenderal (Purn) Wiranto. Acara di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (28/9/2018) lalu. ” Saya akan laksanakan tugas ini. Bukan pertama  kali dapat tugas di luar  struktur  TNI.  Dulu juga pernah di BNPT,” kata Agus  SB  soal  tugas barunya ini. Dengan jabatan barunya, magister  ilmu komunikasi itu, berhak menyandang pangkat letnan jenderal. Ia termasuk mayor  jenderal aktif paling senior.  Pangkat  mayjen diperolehnya 7,5 tahun lalu.  Saat menjabat Deputi 1 Badan  Nasional  Penanggulangan Terorisme (BNPT). Ia menjadi the rising star saat itu. Empat jabatan bintang dua diemban lelaki kelahiran Stabat, Binjai, Sumatra Utara, 57 tahun lalu.

Mulai  Deputi 1 BNPT, Pangdam Wirabuana, Pangdam Hasanuddin, dan Asinten Intelijen Panglima TNI.

Agus SB, lulusan Akmil 1984, menjadi hidup lagi. Ia pun berhak masuk radar calon Kepala Staf Angkatan  Darat (KSAD). Bersama letnan jenderal  lainnya, akan bersaing menjadi pimpinan Markas Besar AD.   Ada  lagi  perwira  tinggi populer yang kartunya kembali hidup. Dia adalah Letjen Doni Monardo. lulusan Akmil 1985.  Kini  Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Sekjen Wantannas)  sejak  Maret 2018 lalu.  Sebagai Ketua Wantannas adalah Presiden Joko Widodo. Sama seperti Agus SB, Doni juga sempat menjadi the rising star di angkatannya saat naik  bintang dua. Ia menduduki  empat  jabatan  mayjen.

Komandan Paspampres, Danjen Kopassus, Pangdam Pattimura, dan Pangdam Siliwangi. Bintang  dua  di  pundaknya  selama  enam tahun.Baik Agus SB dan Doni Monardo sama-sama berlatar Korps Infanteri yang mengawali karier dari Komando Pasukan Khusus (Kopasuss). Mengapa kartu Agus SB dan  Doni hidup lagi ? Sebab, nama keduanya, sempat dilewati adik kelasnya, lulusan 1986 dan 1987, untuk posisi bintang tiga. Semula diperkirakan tiga jabatan bintang tiga di lingkungan AD akan dipercayakan kepada mereka, namun ternyata tidak demikian. Tiga jabatan itu adalah Wakil KSAD, Panglima  Kostrad, serta Komandan Kodiklatad.

Baca Juga :  Din Syamsudin Apresiasi Cara Pemerintah Tangani Wabah Corona

 Di luar struktur

Dengan  pangkat letjen dan memiliki jabatan strategis, kartu keduanya hidup lagi. Kendati jabatan Agus SB dan Doni di luar struktur TNI, bukan berarti mereka tidak punya peluang. Mereka akan bersaing dengan lulusan 1984, 1985, 1986, dan 1987. Semua memiliki peluang yang sama. Peluang yang sama untuk  menggantikan  Jenderal Mulyono. memang  Mulyono, lulusan Akmil 1983, baru akan memasuki pensiun  Februari-Maret 2019. Tetapi bukan tidak mungkin, posisi KSAD akan diganti sekitar tiga bulan sebelum Mulyono pensiun.

Hal ini  mengacu pada pergantian Panglima TNI dari  Jenderal  Gatot  Nurmantyo (Akmil 1982)  kepada Marsekal  Hadi Tjahjanto (AAU 1986). Gatot diganti tiga bulan sebelum usia pensiun. Pola  percepatan  seperti  ini,  sangat  mungkin terjadi juga pada jabatan KSAD. Karena itu, kemungkinan besar usai hari TNI 5 Oktober 2018,  Mulyono akan diganti pada November – Desember 2018 ini. Artinya, pada November 2018,  sudah  ada nama-nama letnan jenderal sebagai calon KSAD. Setidaknya 3-4 nama akan disodorkan  Panglima TNI  kepada  presiden  sebagai  kepala negara dan pemegang kekuasaan tertinggi  atas  Angkatan  Darat (AD) Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU)  seperti bunyi UUD 1945, pasal 10. Hingga  awal  Oktober 2018 ini, ada delapan jenderal bintang tiga lulusan Akmil  1987 hingga 1984  yang memiliki peluang.

Mereka adalah Ediwan Prabowo, Agus SB, Doni Monardo, Dodik Wijanarko, Tri Legiono Suko, Tatang Sulaiman, Andika Perkasa, Muhammad Herindra, dan Anto Mukti Putranto. Selain Doni dan Agus SB, senior yang sempat menjadi the rising star saat naik menjadi letjen, yakni Ediwan Prabowo.

Sama dengan Agus SB, Ediwan lulusan terbaik Akmil 1984. Ia dari Korps Artileri Medan (Armed). Bahkan pangkat letjen diraihnya 4,5 tahun lalu. Saat dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan. Ediwan tidak beruntung. Sebab, sejak 2016 hingga saat ini, ia tidak memiliki jabatan. Di-staf khusus-kan di Mabesad alias tidak punya jabatan.

Baca Juga :  Polda Kalteng Gelar Konferensi Pers Menjelang di Akhir Tahun 2019

Usia pensiunnya masih satu tahun lagi. Masih berpeluang. Namun tipis, karena nonjob. Kartu Ediwan belum juga hidup. Padahal, dia sempat menjadi kandidat KSAD sejak 2015 lalu. Kini namanya bagai tenggelam ditiup angin badai.Sama halnya dengan Ediwan, Agus SB tinggal 11 bulan lagi pensiun. Namun, peluangnya masih ada. Ambil contoh, Budiman. Ia menjadi KSAD pada 2013, jelang satu tahun memasuki pensiun. Untuk jabatan bintang empat, masih mungkin mendapatkan perpanjangan masa dinas. Hal ini, antara lain dialami Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung pada 1995 dan 1996. Panglima TNI Jenderal Endriartono  Sutarto juga dua kali diperpanjang pada 2005 dan 2006. Memang jabatan Agus SB di luar struktur TNI.  Tetapi  dalam posisi yang sama, Agustadi Sasongko Purnomo pada 2007, naik dari Sesmenko Polhukam menjadi KSAD. Walau tipis, Agus SB masih punya peluang. Prestasinya antara lain saat menjadi deputi di BNPT. Ia dapat julukan sebagai ‘bapak deradikalisasi’ terhadap kelompok teroris.

Saat menjadi Pangdam Wirabuana antara lain berhasil mengakhiri pelarian kelompok terduga teroris Santoso di gunung wilayah Palu. Beberapa rekor MURI pun diciptakannya saat menjadi pangdam.

Bagaimana dengan Doni Monardo? Usia pensiunnya masih 2,5 tahun lagi. Jadi peluangnya terbuka lebar untuk menjadi KSAD. Dengan beragam prestasinya saat bintang dua, ia populer di mata publik. Saat menjadi Pangdam Pattimura, ia mengakhiri pertikaian berpuluh tahun di Negeri Morela dan Mamala, Maluku. Mendamaikan kelompok-kelompok masyarakat yang bertikai. Juga program lingkungan hidup dan perekonomian masyarakat. Ia gagas istilah program emas hijau dan emas biru.Begitu juga saat menjadi Pangdam Siliwangi dengan program Citarum Harum. Program ini kemudian diambilalih pemerintah pusat.

Doni kini memiliki program merangkul bekas Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pemberdayaan ekonomi di Aceh. “Persoalan rehabilitasi mantan kombatan GAM belum selesai hingga kini,” kata Doni. Dengan beragam prestasinya, maka pantas, Doni menjadi salah satu nominator terkuat. Memang belum ada  catatan sejarah para pendahulu Sekjen Wantannas  promosi menjadi KSAD. Entahlah, kali ini. (Red/F)

Baca Juga :  Polri Luncurkan 3 Program Berbasis Teknologi