METROBRATA UTAMA

Media Hukum & Kriminalitas

Ketua ICMI : Jimly: UU ITE Sudah Telan Banyak Korban

2 min read

Metama,Jakarta : Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie menyinggung soal Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Menurutnya, banyak politisi atau orang awam yang terjerat oleh pasal karet dalam UU ITE. Jimmy menilai UU ITE perlu ditinjau ulang dan direvisi kembali.

“Saya setuju UU ITE itu harus dievaluasi kembali karena sudah banyak memakan korban yang tidak perlu, bahkan ini sudah mirip dengan pasal-pasal karet dan UU Subversif yang sudah pernah dihapus oleh Mahkamah Konstitusi dulu,” kata Jimly di ICMI Center, Jakarta Selatan pada Senin (4/2).

Meskipun begitu, Jimly mengakui UU ITE bagus untuk mereduksi dan mengatur penggunaan sosial media yang terlampau bebas dan rentan dengan ujaran kebencian atau penyebaran hoaks. Namun, pada praktiknya saat ini, UU ITE digunakan untuk hal-hal yang keluar dari substansi masalahnya.”Hal-hal semacam itu jika dibiarkan, saya khawatir akan mengancam dan mencoreng wajah demokrasi kita yang sudah terbangun dengan baik,” ujar Jimly.Terlepas dari UU ITE yang banyak memakan korban terutama menjelang Pemilu 2019 ini, Jimly meyakini Pemilu yang akan dilaksanakan pada 17 April 2019 mendatang tetap berjalan dengan baik.”Kita meyakini bahwa saat ini sudah ada kedewasaan berpolitik,  sehingga segala bentuk hoaks maupun kampanye negatif tidak akan efektif lagi mempengaruhi suasana masyarakat,” jelas dia.

Di era digital ini kedua kubu jangan terlampau sensitif terhadap informasi

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie meyakini Pileg dan Pilpres akan berjala aman, damai, dan lancar. Oleh karena itu, ia meminta masyarakat tak perlu merasa khawatir atau takut berlebihan.”Kita meyakini bahwa saat ini sudah ada kedewasaan berpolitik,  sehingga segala bentuk hoaks maupun  kampanye negatif tidak akan efektif lagi mempengaruhi suasana masyarakat,” kata Jimly dalam dialog dengan media di Kantor Sekretariat ICMI, Senin (4/2).

Baca Juga :  Sosok Inspiratif Almarhumah Ani Yudhoyono

Hanya saja, ia menilai kedua kubu sering kampanye negatif bahkan menyebarkan hoaks. Apalagi dengan adanya media sosial, informasi akan mudah tersebar dan membuat suasana semakin gaduh. Jimly pun berharap, di era digital ini kedua kubu jangan  terlampau sensitif terhadap informasi, apalagi menyebarkan informasi yang belum valid kebenarannya.

“Pokoknya masing-masing kubu cukup kampanye positif saja tentang Capres-Cawapresnya,  sehingga tak terpancing dalam sikap defensif lalu menyerang pihak lain,” ujar Jimly.

Jimly mengungkapkan, Pemilu yang lebih gawat pernah terjadi sebelumnya di Indonesia, yakni pada Pemilu tahun 1999 dimana pemerintah dunia mengirimkan tim independen untuk mengawasi Indonesia. “Indonesia sukses melewati masa itu meski diramalkan akan menjadi Pemilu yang berdarah-darah dan memakan korban,” kata dia. (Red F/S-Rep)