METROBRATA UTAMA

Media Hukum & Kriminalitas

Ketua Pepabri : Ingatkan Dua Ancaman NKRI, Komunis dan Paham Radikal Agama

2 min read

Metama.com,Jakarta : Pernyataan disampaikan oleh Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar menilai ada dua ancaman terkait dengan paham ekstrem atau radikal bagi bangsa dan negara.

Ancaman itu, yakni dari paham komunis dan paham radikal agama. ” Pertama dari paham komunis. Kedua adalah paham radikal agama yang ingin mendirikan negara khilafah,” ujar Agum di hadapan para purnawirawan TNI di Kementerian Pertahanan, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (29/7).

Menurut Agum, salah satu tugas besar bagi para purnawirawan TNI adalah mengawal bangsa dan negara dari ancaman-ancaman tersebut. Ancaman itu, kata dia, berupa gerakan yang menginginkan mengganti Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Inilah ancaman ke depan yang harus kita antisipasi. Bukan hanya sekadar mengantarkan. Ini perlu kebersamaan kita dengan jiwa semangat sapta marga dan sumpah prajurit,” terangnya.

Agum mengatakan, berdirinya NKRI dan Pancasila sebagai ideologi negara merupakan hasil perjuangan para pahlawan kemerdekaan di masa lalu. Ia juga menyebutkan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.

Karena itu, jika ada yang hendak mengganti NKRI dan Pancasila, maka itu harus dijadikan ancaman. “Jadi kalau detik ini ada kekuatan yang ingin mengganti NKRI, ingin mengganti Pancasila, itu harus merupakan suatu ancaman buat kita semua. Buat bangsa dan negara. Ini musuh kita semua,” jelasnya.

 Dua Ancaman Gerakan Radikal Terhadap NKRI

Agum mengatakan gerakan radikal bisa kiri dan kanan.

Ketua Umum Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pepabri) Jenderal TNI (Purnawirawan) Agum Gumelar menyebutkan setidaknya ada dua gerakan radikal yang mengancam keutuhan NKRI.  

“Radikal itu bisa kiri dan kanan,” katanya usai menghadiri silaturahmi Menteri Pertahanan dengan purnawirawan TNI di Jakarta, Senin (29/7). Gerakan radikal kiri, kata dia, adalah paham komunisme, sementara gerakan radikal kanan adalah paham radikal agama yang menjadi ancaman dengan sistem khilafahnya.

Baca Juga :  Sabhara Polres Gresik Bagi- bagi Masker Gratis

Akan tetapi, Agum melihat ancaman gerakan dan paham komunis tidak perlu dikhawatirkan karena upaya penanggulangannyan sudah dipayungi dengan Ketetapan MPRS XXV/1966.

Bahkan, kata dia, Presiden Joko Widodo menyampaikan ketegasannya soal pencegahan gerakan komunis dengan Tap MPRS Nomor XXV dengan payung hukum. “Pak Jokowi, waktu dialog sama santri di Jawa Barat, ada yang bertanya.

Pak Jokowi jawabannya tegas. Kita punya Tap MPR. Kalau mereka mau bangkit kembali, ya, kita gebuk,” katanya.

Namun, diakui Agum, untuk ancaman yang satu lagi, yakni gerakan radikal agama memerlukan kewaspadaan yang sangat tinggi dari warga bangsa. “Ancaman yang satu ini, bangsa Indonesia perlu waspadai betul,” kata mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan, serta Menteri Pertahanan itu. Karena itu, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu mengajak seluruh purnawirawan TNI dan Polri untuk bersatu menjaga keutuhan bangsa dan negara dari ancaman gerakan radikal.

Selain Agum, silaturahmi yang dibuka Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacucu itu dihadiri jajaran purnawirawan TNI lainnya, antara lain, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn.) Djoko Santoso.

(Red F/S-rep)