METROBRATA UTAMA

Media Hukum & Kriminalitas

Polres Gowa : Amankan Tiga Pelaku Pengeroyokan Anggota Polantas

4 min read

Metama.com, Gowa (Sulsel) : Tiga pria berhasil diamankan Polres Gowa akibat aksi pengeroyokan yang dilakukannya terhadap seorang personil Satuan Lalu Lintas (Polantas) Polres Gowa. Aksi pengeroyokan petugas tersebut terjadi di Jl. Usman Salengke. Tepatnya di dekat Taman PKK sebelum jembatan kembar, Kamis (8/8/2019) sore kemarin.

Ketiga pelaku ini adalah MIR (23), NA (28), dan ED (36). Ketiganya merupakan warga kota Makassar. Dilansir dari media lokal, Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga menuturkan sangat menyayangkan aksi pengeroyokan terhadap petugas kepolisian. “Apapun alasannya, aksi penyerangan yang dilakukan pelaku ini sangat tidak pantas,” kata Shinto, pada Jumat (9/8/2019) siang.

Shinto menyebut, hal ini pun berdampak bagi kewibawaan kepolisian selaku penjaga ketertiban umum. Perwira polisi tiga melati ini melanjutkan, apa yang dilakukan personelnya tersebut merupakan salah satu bentuk diskresi kepolisian. Wujudnya memperbolehkan ambulans melintas menggunakan jalur yang berlawanan arah, Tentunya, diskresi kepolisian ini tidak diberlakukan kepada pengiring rombongan ambulans,” katanya.

Menurutnya, pengguna jalan tak hanya mereka, melainkan ada masyarakat umum lainnya yang perlu mendapatkan pelayanan kenyamanan dalam berkendara. Kapolres pun menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam apabila anggotanya menerima serangan saat melaksanakan tugas.

“Polres Gowa tidak akan tinggal diam ketika ada serangan terhadap anggota yang melaksanakan tugas.” “Kami yakinkan, mereka harus berhadapan dengan penengakan dan pertanggungjawaban hukum,” tegas AKBP Shinto Silitonga.

Adapun hingga saat ini, Polres Gowa masih melakukan identifikasi terhadap adanya keterlibatan tersangka lain dalam aksi pengeroyokan terhadap petugas kepolisian ini.

“Terhadap pelaku, akan kita persangkakan pasal 214 KUHP yaitu menyerang anggota kepolisian yang sedang melaksanakan tugas yang sah,” ujar Kapolres Gowa.

Kronologi Lengkap Kejadian
Kejadian ini berawal saat ketiga pelaku yang menggunakan mobil sedang ikut dalam rombongan pengantar mobil ambulans jenazah dari arah Gowa ke Kabupaten Takalar.

Baca Juga :  Polres Minahasa : Ajak Masyarakat Gelorakan “Millennial Road Safety Festival”

Petugas Satlantas ketika itu sedang melaksanakan pengaturan lalu lintas, Namun rupanya, rombongan pengantar jenazah yang berada di belakang turut mengikuti mobil ambulans tersebut melawan arus.
Personel Satlantas pun sigap menghentikan mobil pelaku dan mengarahkannya untuk tetap mengikuti jalur yang sesuai.
Pelaku turun dari mobilnya dan langsung melakukan pengeroyokan, ” tandas Shinto. Pengeroyokan di tengah jalan ini menjadi perhatian pengguna jalan yang lain.

Kenapa Pengantar Jenazah Diistimewakan ? Tapi Jangan Arogan

Pada dasarnya menggunakan sarana dan prasana jalan untuk keperluan berlalu lintas adalah hak asasi setiap orang. semua orang mempunyai hak yang sama untuk menggunakan jalan untuk berlalu lintas. Tidak ada seorang pun mempunyai hak untuk diutamakan, kecuali didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Peraturan perundang-undangan yang ada memberikan peluang bagi orang tertentu atau kendaraan yang digunakan bagi keperluan tertentu mendapatkan prioritas menggunakan jalan untuk berlalu lintas.
Hak utama itu diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 43 Tahun 1993
Dalam Pasal 65 ayat 1 disebutkan, pemakai jalan wajib mendahulukan sesuai urutan prioritas sebagai berikut:
a. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas
b. Ambulans yang mengangkut orang sakit
c. Kendaraan untuk memberi pertolongan pada kecelakaan lalu lintas
d. Kendaraan Kepala Negara (Presiden dan Wakil Presiden) atau Pemerintah Asing yang menjadi tamu negara
e. Iring-iringan pengantar jenazah
f. Konvoi, pawai atau kendaraan orang cacat
g. Kendaraan yang penggunaannya untuk keperluan khusus atau mengangkut barang-barang khusus.

Semua kendaraan tersebut di atas wajib didahulukan dalam berlalu lintas.
Kendaraan yang mendapatkan prioritas tersebut, berdasarkan ayat 2 Pasal 65 PP diatas, harus disertai dengan peng-awalan petugas yang berwenang atau dilengkapi dengan isyarat atau tanda-tanda lain.

Baca Juga :  Kapolres Gresik Pimpin OPS Yustisi Dan Jaring 28 Orang Pelanggar Yang Tidak Menggunakan Masker

Dalam ayat 3 ditegaskan lagi, petugas yang berwenang melakukan pengamanan apabila mengetahui adanya pemakai jalan yang diprioritaskan tersebut.
Dalam ayat 4 ditambahkan, perintah atau larangan yang dinyatakan dengan alat pemberi isyarat lalu-lintas tentang isyarat berhenti tidak diberlakukan kepada kendaraan-kendaraan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 huruf “a” sampai dengan “e”.
Kewenangan Pengawalan Jalan oleh Polri
Esensi dari pengawalan tidak lain memang memberikan pengamanan, baik terhadap kendaraan yang dikawal, maupun pengguna jalan lain yang berada di sekitar kendaraan yang dikawal.
Karena menyangkut pengamanan, pihak yang paling berwenang adalah POLRI. Karena pengamanan adalah bagian dari tugas pokok Polri.
Dalam Pasal 14 ayat 1 huruf “a” UU Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia disebutkan, dalam melaksanakan tugas pokoknya, Polri bertugas melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan.

Konsekuensi Pengguna Jalan Lainnya
Bila terdapat tindakan pengawalan jalan, maka menjadi kewajiban kepada pengguna jalan lain untuk memberikan prioritas kepada kendaraan yang dikawal.
Dalam Pasal 34 ayat 1 PP Nomor 43 Tahun 1993 ditegaskan bahwa dalam keadaan tertentu petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat melakukan tindakan:
a. memberhentikan arus lalu lintas dan/atau pemakai jalan tertentu
b. memerintahkan pemakai jalan untuk jalan terus
c. mempercepat arus lalu lintas
d. memperlambat arus lalu lintas
e. mengubah arah arus lalu lintas

Dalam Pasal 34 Ayat 2 PP Nomor 43 Tahun 1993 juga ditekankan, pemakai jalan wajib mematuhi perintah yang diberikan oleh petugas polisi.
Pada ayat 2 dipertegas lagi, perintah yang diberikan oleh petugas polisi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1, wajib didahulukan daripada perintah yang diberikan oleh alat pemberi isyarat lalu lintas. Meski iring-iringan pengantar jenazah masuk kendaraan prioritas kelima, tapi iring-iringan kendaraan pengantar jenazah tetap harus memperhatikan keselamatan pengguna jalan yang lain.

Baca Juga :  Kapolda Sulut : Resmikan Rumah Doa Kristen Oikumene (Bintal) Polres Bitung.

(Sompe/Red F/S-trbn)