Ketua PB IDI: Kalau Presiden Siap Jadi Yang Pertama Disuntik Vaksin, IDI Juga Bersedia - METROBRATA UTAMA    

METROBRATA UTAMA

Media Hukum & Kriminalitas

Ketua PB IDI: Kalau Presiden Siap Jadi Yang Pertama Disuntik Vaksin, IDI Juga Bersedia

3 min read

Metama.com,Jakarta ; Pernyataan disampaikan oleh Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih menyatakan dokter-dokter anggota IDI siap menjadi target pertama vaksinasi COVID-19. “Kalau Bapak Presiden menyampaikan sudah bersiap menjadi bagian yang pertama disuntik, IDI juga bersedia menjadi salah satu yang siap pertama dilakukan penyuntikan,” kata Daeng dikutip Antara, Senin, 14 Desember.

Daeng mengatakan IDI mendukung program vaksinasi yang akan dilaksanakan oleh pemerintah untuk mengendalikan penularan SARS-CoV-2, virus corona penyebab COVID-19, Dokter-dokter anggota IDI, menurutnya siap menjadi penerima pertama suntikan vaksin COVID-19 yang penggunaannya sudah mendapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Daeng mengklarifikasi berita yang menyebutkan organisasinya menolak vaksinasi COVID-19.

Pemberitaan itu disebutbisa mempengaruhi kepercayaan publik terhadap program vaksinasi pemerintah. “Pemberitaan seperti itu akan berdampak pada program vaksinasi, karena masyarakat percaya betul pada dokter dan IDI. Kalau IDI saja menolak, apalagi masyarakat,” kata dia.

Daeng mengatakan masyarakat tidak perlu ragu menjalani vaksinasi kalau vaksin COVID-19 sudah tersedia dan BPOM mengizinkan penggunaannya setelah memeriksa kemanjuran dan keamanan vaksin. IDI menyatakan vaksinasi merupakan upaya kedua setelah penerapan protokol kesehatan untuk menekan penularan COVID-19 di Indonesia.

1,2 Juta Vaksin Sinovac Sudah Tiba di Indonesia, Jokowi: Harapan Baru Indonesia

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, vaksin COVID-19 telah tiba di Tanah Air. Vaksin ini merupakan produksi Sinovac, perusahaan asal China. Jumlah vaksin yang tiba di Tanah Air sebanyak 1,2 juta dosis.
Lebih lanjut, Jokowi mengatakan, kedatangan vaksin ini merupakan kabar baik dan harapan baru dalam penanganan pandemi COVID-19 di Tanah Air.

“Hari ini pemerintah sudah menerima 1,2 juta dosis vaksin COVID-19. Vaksin ini buatan Sinovac yang kita uji secara klinis di Bandung sejak Agustus 2020 yang lalu,” katanya, dikutip dari siaran langsung di akun Youtube Sekretariat Presiden, Minggu, 6 Desember. Seperti diketahui, vaksin COVID-19 tiba di Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, malam ini sekitar pukul 21.25 WIB.

Baca Juga :  HUT KAI Ke-12 , DPD KAI Yogyakarta Gelar Acara Sederhana

Vaksin tersebut diangkut dengan menggunakan pesawat milik maskapai PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), pesawat jenis Boeing 777-300ER. Vaksin diangkut dengan menggunakan kontainer khusus bertuliskan ENVIROTAINER berkode RAP81179PC. Tampak beberapa petugas langsung menyemprot konteriner yang baru tiba tersebut.

Presiden Jokowi menyampaikan , pemerintah sedang mengupayakan adanya penambahan vaksin. Diperkirakan, sebanyak 1,8 juta dosis akan tiba diawal Januari 2021. “Selain vaksin dalam bentuk jadi, bulan ini akan tiba 15 juta dosis vaksin dan Januari 30 juta dosis dalam bentuk bahan baku yang akan diproses lebih lanjut oleh Bio Farma,” tuturnya.

Seperti diketahui, ada dua kategori vaksinasi. Pertama, vaksin pemerintah. Vaksin ini akan diberikan secara gratis bagi kelompok prioritas. Adapun yang masuk ke dalam kelompok prioritas adalah tenaga medis, TNI, Polri, dan mayarakat miskin yang terdata di BPJS Kesehatan.

Kedua adalah vaksinasi mandiri. Kategori ini diperuntukan bagi masyarakat yang tidak masuk kelompok prioritas. Masyarakat dapat melakukan vaksinasi secara mandiri dengan membeli sendiri atas kemauannya.
Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir menuturkan pemerintah tetap akan memprioritaskan pemberian vaksin kepada penduduk usia 18 hingga 59 tahun.

Lebih lanjut, Erick berujar hal ini karena vaksin Sinovac yang akan digunakan pada vaksinasi tahap awal ini, diujicobakan pada penduduk rentang usia 18 hingga 59 tahun. Sedangkan, target awal yang akan diimunisasi yaitu 67 persen. “Mengingat kebutuhan akan vaksin yang sangat tinggi namun masih terbatas, pemerintah ingin sekali memastikan perjalanan vaksinasi se-transparan mungkin dan pemerintah mempersiapkan dengan sebaik-baiknya,” katanya, dalam webinar, Selasa, 24 November.

(RED F)